Kisah Pencari Kayu Bakar dan Pendaki Tebing
Apa yang terjadi ketika kita tiba di segara anakan? ternyata sudah ada beberapa tenda berdiri di sana. Di pesisir pantai, ada satu tenda dan satu flysheet. Di tempat yang berumput sedikit ke atas ada sekitar 2-3 tenda. Tadinya, kita sudah membangun di pesisir pantai. Tapi niat tersebut diurungkan. Resiko cuy, takut air tiba-tiba naik dan bilang pengen ikut masuk tenda.
Akhirnya kita boyong lah itu tenda ke tempat yang sedikit ada rumputnya. Tenda berdiri, gilang dan candra memutuskan cari kayu bakar. Sisanya pengen liat sunset dari atas tebing. Maafkan kami gilang dan candra. Kesempatan berikutnya biar anda yang ke tebing dan kami yang cari kayu.
Tebing segara Anakan. By Dien Nurdini
Kisah Tutup Botol Cleo
Setelah terpana liat samudra hindia yang tanpa batas plus dicampur warna-warna lembayung, kami kembali ke tenda. Di sana sudah ada Candra dan Gilang dengan membawa kayu bakar dari hutan. Ketika semua berkumpul dan menyatukan logistik, kami semua tercenung. Oh tidak.. dari target semula per orang membawa 3 botol air untuk 2 hari 2 malam, ini yang tersisa adalah 12 botol untuk 7 orang. Ini krusial, sodara-sodara. Akhirnya dengan kesadaran tingkat tinggi, keadaan berusaha diselamatkan dengan menghemat air. Setiap orang hanya mendapat jatah satu tutup botol aqua. Namun, karena kami masih mau hidup, keputusan itu diubah menjadi satu tutup botol cleo.
Anda ingat botol ini?
# Tips no 5.
Menuju Sempu, yang paling penting adalah AIR. Sekali lagi AIR. Jadi, jika Anda tergoda memasukkan snack atau binatang lainnya, pastikan prasyarat AIR sudah masuk terlebih dahulu. Harga jual Snack jatuh drastis di pulau ini. Nilai tukar AIR jauh lebih tinggi. Jangan lupa selipkan beberapa botol Cleo untuk situasi darurat macam ini.
Kisah Ikan Bakar Penyelamat
Masih ingat ikan bakar yang dibeli di Sendang Biru? Jumlah itu kebanyakan untuk kita bertujuh. Tapi selalu ada hikmah dibalik ketidakrakusan. Setelah air dijatah, situasi jadi merana. Ikan bakar tidak terlihat lagi merona. Hati meronta-ronta dan berbagai bujuk rayu diluncurkan untuk mendapat jatah air berlebih. Tapi tak satupun yang manjur. Situasi darurat tutup botol Cleo adalah mutlak. Titik.
Dalam teori Prososial, seseorang cenderung akan melakukan tindakan baik ketika hatinya sedang sangat riang gembira atau sedang sangat merana. Tentu saja, situasi kita lebih tepat yang terakhir. Tapi kebaikan tetap menular. Si Ikan, yang berlebihan, disedekahkan kepada tenda sebelah. Namun, pancingan belum berhasil. Tenda sebelah malah mengirimkan kue snack kering yang membuat kita semakin merasa murung. Pergilah kami semua ke pesisir pantai.
Beralaskan matras, memandangi malam langit itu. Acara bakar-bakaran cepat sekali menjadi abu. Tidak ada kopi-kopi. Tidak ada pesta pora. Sayup-sayup hanya terdengar lagu dari MP3 dan permen Menta sang penghilang haus yang tidak manjur dan karena itu tidak laku.
Diajak curhat, kita diam.
diajak main kartu, kita diam.
diajak bicara, kita salah kata-kata.
Urusan air memang langsung lari ke otak. Debur ombak terdengar, cahaya bulan purnama sungguh terang. Indah, tapi tidak terlihat. Kami sibuk dengan leher masing-masing. Membayangkan es jeruk dan teh manis dingin.
Posisi sudah bukan duduk, tapi berbaring. Menatap langit yang tak berbintang, hanya purnama yang terang. Berbaris kita macam teri di pinggir pantai. Cuaca panas sekali. Angin berhenti berhembus. Siapa tau, dengan berpose bagai teri, ada air yang menyambar. Bukan air laut tentu saja, yang kita harapkan.
"Gw mati aja deh kalau ga ada air" itu suara si Yudha. Sebelum ia tertidur. Matanya menerawang ke arah bulan, merana kehabisan akal.
Namun, Tuhan tampaknya belum mau Yudha mati. Mungkin ia masih keberatan dilihat langsung oleh Yudha. Ketika itulah datang dari gelap, seseorang dari tenda sebelah yang mungkin tersadar snack pemberiannya tidak tersentuh menawarkan alat tukar lain. Sebuah AIR sodara-sodara. Satu botol besar. Sungguh tak dinyana. Sungguh tak disangka.
Mereka yang tertidur terbangun. Yudha tentu saja menjadi yang paling sigap dan segera mendekap si Air pemberian. Puji syukur dipanjatkan. "Alhamdulillahirabbil alamin Ya Allah Gustiii.." Tidak lupa ia bawa golok, takut ada yang merebut air keramat tersebut.
Tiba-tiba malam menjadi indah. Bulan purnama terlihat sempurna. Debur ombak bernyanyi mengiringi malam itu. Awan-awan pun terlihat lucu. "Lihat deh awan yang itu, bentuknya seperti Pak Tua!" Kami sibuk mengomentari kesana kemari. Sungguh malam yang indah. Kopi diseduh, Air diteguk. Kartu dimainkan. Kami tertawa-tawa mengalahkan tenda sebelah yang asik minum-minuman air berakohol. Betapa sederhananya untuk bisa bahagia di pulau Sempu.
# Tips no 6. Jangan terjebak. Dalam situasi apapun, utamakan kebaikan. Berusahalah akrab dengan tenda sebelah, berbagi makanan sangat dibolehkan. Oleh karena itu, sebelum membangun tenda adakan survey sejenak mengenai kekayaan dan keberadaan air di tenda sebelah lahan kita.
Kisah Pencari Udang
Secara kebetulan, ini bulan Purnama. Teman-teman sudah tertidur, tapi saya masih belum mengantuk. Sambil menatap kelelawar yang beberapa kali terbang melintasi kita, perhatian saya teralih oleh air yang tiba-tiba menjadi sangat surut. Apakah terjadi tsunami? Tentu saja tidak. Konon katanya kalau tsunami, tercium bau garam yang tidak biasa. Dan penciuman saya tidak menangkap hal yang aneh. Namun, banyak orang-orang yang mulai berjalan ke arah tengah segara anakan yang mulai surut. Tampaknya mereka begitu biasa, berjalan 1-3 orang sambil menerangi pesisir dengan senter mereka. Saya yang penasaran mengajak Gilang sang kalong lainnya untuk melihat apa yang mereka lakukan. Oala.. ternyata mereka sedang menangkapi Udang! Kami pun bergegas kembali, mengambil botol aqua dan gelas untuk ikut berburu.
Ternyata, jika Purnama datang dan pantai sudah surut, pesisir sempu menyimpan kekayaan. Lebih dari 10 udang yang kami temukan dalam waktu 1-2 jam. Selain itu, terdapat juga kepiting, kumang, dan ikan kecil yang terjebak di cekungan pasir. Hanya saja yang paling mudah ditangkap ya si udang ini. Mereka berbeda dengan ikan yang pandai, lincah, dan sulit ditangkap. Mungkin itulah mengapa orang-orang suka membuat istilah "otak udang".
Saya jadi teringat sewaktu kecil pernah menangkapi ikan selokan di kolam mata air belakang rumah saya bersama kakak saya. Malam itu, saya kembali merasakan kesenangan yang sama. Seru rasanya bisa bermain di pesisir, dengan ombak yang sesekali membasuh kaki, sambil berburu udang-udang yang banyak bersembunyi. Saya yakin, gilang juga merasakan kesenangan yang sama. Kawat giginya tidak berhenti nyengir menerima pantulan purnama.
Its Fullmoon Tonight by Candra Wana
# Tips no 7. Saya tidak tahu apa yang membuat air laut surut (betul-betul saya lupa apa yang diajarkan di sekolah). Apakah itu benar-benar karena bulan purnama? Jika ya, silahkan cocokkan jadwal kedatangan anda dengan bulan purnama, dan temukan kesenangan berburu udang di sini. Sungguh sungguh seru =)
Kisah Sang Penyelam
Hai Pagi! by Gilang Satria P.
Pagi itu kami terbangun satu-satu. Saya terbangun dengan pemandangan yang sangat spektakuler. Sungguh berasa masuk ke dunia foto.
"Seger ya. Gua ga biasa bangun sepagi ini." itu suara si Candra yang tiba-tiba udah ada di sebelah kami yang tidur di pesisir. Semalam, ia sendirian tidur di tenda. Matanya memicing menatap takjub segara anakan. Saya, langsung memberinya jatah air minum saat itu juga.
Kami menduga hari itu akan sangat ramai seperti Ancol. Karena itu, kegiatan di segara anakan kami sudahi sampai hari ini saja. Kami akan mengungsi menuju pantai yang lain.
Sebelum pengungsian, saatnya bersenang-senang berenang dan tentu saja: snorkeling! Sayangnya, alat snorkeling hanya ada dua pasang. Salah satunya agak bocor hanya cukup jika dipakai 5 hisap dalam air. Beberapa mencoba bergantian, namun tidak berhasil sampai ke tengah. Saya pun penasaran. Berhubung tidak bisa berenang, saya pakai itu pelampung lengan untuk anak-anak yang sudah saya bawa. Bersama gilang, kami mencoba mengundi nasib. Beruntung pernah punya pengalaman di tengah ombak pulau seribu, maka situasi yang sedang surut dan laut yang dikelilingi karang, membuat kegiatan snorkeling tidak terlalu berat. Dengan alat yang terbatas, kami mengatur strategi agar bisa bernafas dengan bergantian menopang.
Ternyata, pemandangan yang dilihat tidak begitu bagus. Pada awal-awal snorkeling, laut agak kotor dan tidak ada pemandangan apa-apa. Terumbu karang dan ikan-ikan warna-warni baru muncul ketika kita agak ke tengah. Kami berhasil mencapai pulau kecil di tengah segara anakan dan beristirahat sejenak di gua akibat kikisan air laut di situ. Meskipun belum banyak yang dilihat, tapi saya lebih menikmati snorkeling kali ini dibanding ketika di Seribu. Rasanya segar sekali.
Sepertinya ada spot-spot yang lebih bagus yang belum kita tahu, tapi kami takut terlalu lama meninggalkan teman-teman. Lagipula saya juga takut ada hal lain muncul dari dalam laut. Kami pun memutuskan pulang. Perjalanan pulang ternyata lebih berat dalam melawan air. Namun, kami sempat melihat ikan terbang indosiar di sini. Yang kami takutkan hanya satu: adanya ikan baracuda. Beruntung, kami kurang tahu bentuk pastinya seperti apa.
Teman-teman sudah menunggu kami di pesisir. Kami pun bercerita apa yang berhasil kami temukan. Tampaknya, Yudha dan Candra masih penasaran. Dengan mengikuti metode kami, mereka memutuskan snorkeling bersama dengan menggunakan pelampung. Sisanya, kembali ke tenda dan mulai masak-masak pagi.
Tidak berapa lama, Candra sang favorit di KRL Matarmaja kembali dengan tatapan kosong dan langkah gontai. Ia hanya terduduk lemas di depan tenda. Kami kebingungan dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Namun, Ia masih shock sambil tergeleng lesu.
Ternyata, Candra teman kita ini sempat mengalami asma di laut. Menurut pengakuannya, di tengah laut yang gelap dan sepi tiba-tiba ia tidak bisa bernafas. Mungkin imajinasinya terlalu liar tentang laut. Mungkin ia membayangkan adanya alien, atau medusa, atau makhluk laut lain yang tiba-tiba muncul. Lalu ia terserang asma. Padahal, biasanya asma dirinya tidak pernah kambuh. Sungguh aneh.
Candra Wana menemukan pelajaran sendiri dari kegiatan ini. Mencumbu laut baginya hampir membuatnya mencumbu maut. Ia masih duduk di situ dengan tampang begitu sampai semua masakan selesai dimasak, siap dihidangkan, dan Yudha kembali datang dengan berseri-seri.
"Gw juga liat ikan terbang" katanya sambil nyengir jenaka.
# Tips no 8. Snorkeling memang mungkin dilakukan di pulau ini. Tapi karang-karangnya sebenarnya sudah banyak yang rusak. Sebaiknya kalau mau snorkeling tidak dimulai dari pesisir segara anakan, tapi berjalan kaki dulu dan mulai dari sudut yang lain. Bisa jadi pemandangan lebih segar di sana. Siapkan alat snorkel yang berfungsi normal dan jangan jauh-jauh dari buddy kamu.
Kisah Si Pengungsi
Benar saja, satu persatu para wisatawan datang. Tiba-tiba saya berasa ada di Ancol. Mereka tidak seperti kita berpakaian gembel kota. Beberapa bertanktop, kaca mata hitam, sepatu crocs, membawa guide, dan aqua-aqua yang bergelantungan. Belum lagi ada rombongan-rombongan sekolah yang mau menetap di situ. Segera saja kami packing. Tapi cahaya menjadi terang sekali. Keringat mengucur. Cuaca sangat cerah, tapi ini sungguh gerah. Mau tak mau kisah ini diselesaikan juga. Kami pun bersiap menuju pantai-pantai tersembunyi.
Emm.. Nantikan lagi liputannya. hahaha.. penantian tak berujung :)







1 konsumen berkomen:
jd, adien selama ini menghilang seperti dtelan bumi ternyata ke sempu toh... akhirnya jd juga...
nanti, pas jadwalnya Tahu berlibur (bc: awal tahun), ajak2 kita k sana yah.
Post a Comment