20.6.10

Bloom and Grow Forever.

Alkisah saya pernah mengikuti suatu beasiswa semasa kuliah yang menarik dibanding beasiswa lain. Beasiswa ini mencakup sebagian biaya kuliah S1 saya setiap semesternya dan bulanan sebesar 300rb rupiah. Lumayan bukan? haha, jangan sirik ya. Tentu saja sangat memadai untuk membiayai buku-buku dan tunjangan kuliah lainnya. Satu yang spesial, beasiswa ini memiliki Training untuk mahasiswanya setiap bulan. Bisa dibilang, saya dibesarkan ketika kuliah salah satunya ya melalui beasiswa ini. Judul beasiswanya Goodwill International Scholarship. 

Alkisah saya mendaftar bersama beberapa orang teman, ternyata wawancara dengan bahasa inggris. Sungguh saya tegang dengan bahasa Inggris yang blepotan. Pewawancara terdiri dari tiga orang, satu warga australia, dua orang lagi adalah perempuan dan laki-laki jepang dengan usia yang sudah berumur. Bahasa Inggris saya kacau, tapi mereka mendengarkan, tetap tersenyum, tertarik mendengar apa yang saya sampaikan, bukan menilai bahasa inggris yang saya ucapkan.

Saya ingat setelah hampir 3 kali saya bertanya ulang: "pardon me?" akhirnya secara kocak saya menjawab: "Yes, of course" pada pertanyaan panjang yang itu saya tidak tahu apa artinya.  Mendengar jawaban saya, Mrs. Hara, pewawancara asal jepang terkejut diam sesaat. Saya deg-degan takut salah ngomong, tapi lalu Mrs Hara dengan antusias berkata: "Of Course? Wow, Very good answer!" sahutnya. Sungguh saya yg berdosa ikut mengangguk-ngangguk saja waktu itu sambil tertawa garing. Sementara pria Jepang yang disampingnya, tidak banyak bicara, hanya mengamati sambil tersenyum-senyum ramah. Rambut panjang dengan kuncir kuda, sungguh nyentrik asik seperti tampilan samurai jepang.

Saya ingat istirahat siang pada hari wawancara itu, mereka break sambil tersenyum ramah pada pengantri untuk mengambil jatah makan siang mereka yang merupakan nasi bungkus. "bule kok makannya warteg" begitu pikir saya. Padahal ternyata Mrs Hara adalah Chairman dari Yayasan Goodwill, dan lelaki yang disampingnya tadi adalah Mr. hara, yang tidak lain tidak bukan adalah suaminya! Keren sekali. Ternyata sudah cukup lama mereka tinggal di Indonesia. Jauh-jauh tinggal di mari untuk membeasiswai kita, Indonesia! Coba bayangkan =)

Saya menjalani beasiswa awalnya dengan datar-datar saja. Namun ada sesuatu yang secara tidak langsung menyentuh hati saya. Beasiswa ini setiap bulan selalu ada pelatihan jam 09.00, dan saya ingat sekali pasangan Mr. & Mrs. Hara selalu ada di sana. Saya datang biasanya mepet sekali, jam 09.00 atau lewat 5, atau kurang 5 (iya saya ngaku, seringnya kelewatan), tapi mereka selalu tiba lebih dulu dengan semua peralatan training siap digunakan.

Senyum ramah dan bersahabat dari mereka selalu menyambut kedatangan dan mengantar kepulangan kami. Ia juga selalu berusaha mengenal nama kami satu persatu. Mrs. Hara pernah mekonfirmasi nama panggilan saya ketika memenangkan ide kreatif majalah Mix, karena ia tidak menemukan nama tersebut di absen. Saya juga ingat ketika dengan sabar Mrs. Hara berbicara di depan kelas agar kami semua datang pelatihan IN TIME, bukan hanya on time.

Begitulah Mrs. Hara. Gayanya selalu sederhana dan bersahaja. Dandanannya simple namun tetap enak dilihat. Bahasa Inggrisnya jelas, tegas, dan tidak terlalu cepat. "Silahkan panggil saya Ibu Mizue, atau Ibu Hara, atau Mrs. Hara, tapi jangan sebut nama keduanya: Ibu Mizue Hara" begitu pintanya di awal.

Sementara Mr. Hara lebih bersifat mendampingi. Seperti biasa tidak banyak bicara namun selalu hadir dengan kameranya. Ia senang sekali mengabadikan foto-foto kami dimana saja. Tidak seperti fotografer biasanya yang bermuka serius, Mr. Hara selalu tersenyum-senyum jenaka setiap mengambil foto. Sikapnya atraktif, senang bergerak. Rambut kuncir kudanya betul-betul membuatnya tambah menyenangkan. Saya melihat mereka sebagai pasangan suami istri yang unik. Usia mereka memang sudah tua, tapi terlihat bahagia dan saling melengkapi. Seperti Yin dan Yang.

Pelatihan yang paling berkesan ketika menginap di wisma Kinasih, terasa kedekatan satu sama lain. Pada malam harinya, Mr & Mrs Hara ikut ramai dengan mengisi acara hiburan. Mrs. Hara bernyanyi dengan sepenuh hati, sementara Mr. Hara mengiringi dengan bermain Harmonika. Saya ingat sekali lagu yang dibawakan mereka waktu itu: Edelweiss.

Edelweiss.. Edelweiss..
Bless My Homeland Forever..
Small and white.. Clean and Bright..
You look happy to meet me..


Saya sering mendengar lagu ini di mapala, tapi ketika mereka yang membawakan lagu ini sepenuh hati, rasanya berbeda. Entah kenapa rasanya haru dan hangat. Mrs. Hara di malam itu juga menyampaikan petuah-petuah hidup yang manis. Salah satunya tentang integritas. Dimana pun kita berada, dengan siapapun kita bekerja, tetap harus menjunjung satu hal penting: Integrity. Integritas ini yang akan membawa kita pada "trust". Entah bagaimana caranya, sepasang asing tersebut menyentuh saya yang beremosi datar ini pelan-pelan dari hati. Rasanya hangat sekali untuk dapat menyayangi mereka.

Selain pasangan suami istri tersebut, ternyata anaknya sang chief editor sisipan koran jakarta post (kalo ga salah), Chisato Hara ikut memberi pelatihan tentang public speaking. Orangnya menarik, tomboi, kurus, putih, dan banyak gerak (seperti ayahnya, hehe). Tapi ketegasannya juga menurun dari ibunya. Cara memberi kuliahnya menarik, karena menolak memakai power point (agar perhatian kita terpusat pada dirinya). Pembawaannya kocak dan bermanfaat sekali.

Sepulang dari Kinasih, kami berfoto-foto lalu pulang dengan mobil jemputan. Saya ingat sekali mereka mengantar kami tidak hanya sampai pintu, tapi juga halaman terluar sambil melambaikan tangan setinggi-tingginya. Sungguh keluarga yang ceria dan hangat.

Mr dan Mrs Hara sangat rajin mendampingi kami training, lebih rajin dari kedatangan saya dan rachel menghadiri training. Ah betapa kami betul-betul sok sibuk. Terakhir kami lulus lebih cepat setengah tahun, sehingga saatnya berpisah dengan Goodwill. Pada saat wisuda kami, bahkan Mr. dan Mrs. Hara menyempatkan hadir. Ah, mereka selalu ada di sana. Di masa-masa penting anak beasiswanya.

Suatu hari nanti, saya ingin menjadi seseorang yang mencapai target-target kehidupan saya. Pada hari itu, saya ingin bertemu kembali dengan mereka, dan menyampaikan pencapaian saya. Saya bisa menebak, betapa mereka akan tersenyum penuh apresiasi dan kharismatis seperti biasa. Goodwill memang bukan sekedar beasiswa. Kehadiran Mr. dan Mrs. Hara membuat saya tersentuh dari hati oleh semua dedikasi mereka.

Dulu, saya tidak habis pikir bagaimana bisa dua orang warga asing sebegitu berdedikasinya menumbuhkan bibit-bibit potensi bangsa, hingga hidupnya dan keluarganya semua bertempat tinggal di negara ini. Bagaimana bisa, di tengah bangsa yang sebagian masih acuh tak acuh, mereka sekeras tenaga berbagi hatinya dengan kami, para mahasiswa? Mungkin balas budi jepang yang secara historis akrab dengan indonesia? Entahlah, sepertinya itu tidak cukup. Keheranan saya yang tidak terjawab membuat kehadiran mereka sungguh menjadi inspirasi.

Kehadiran mereka yang inspiratif itu kini telah tiada. Sebuah rangkaian berita di Jakarta Post memberikan kenyataan memilukan:

"A Japanese couple was stabbed to death Thursday night at their house in Rawa Lele, Jombang, Tangerang, located on the outskirts of Jakarta. Police have arrested one suspect and are hunting another." 


"Yasuo Hara, 69, and his wife, Mizue Hara, 67, were murdered at their residence in Rawa Lele, Jombang, Tangerang, on Thursday allegedly by two former domestic workers who were reportedly disgruntled after being fired on Wednesday after a month of employment." Jakarta Post, 20-06-2010

Bagaimana bisa, dua orang asing yang mendedikasikan hidupnya untuk INDONESIA kini terbaring kaku diambil nyawanya oleh orang INDONESIA?

Ada kemarahan, ada rasa duka, ada ironi. Apakah sakit rasanya? Mengapa seseorang bisa menjadi begitu jahat pada seseorang yang begitu baik?

Perasaan sedih yang tidak terwakilkan oleh kata "sedih".
Rasanya jauh lebih dalam..
Rasanya aneh. ironis.
..dan tidak percaya.

Ketika membaca berita tersebut, kenangan yang saya tulis di awal muncul satu persatu secara bergantian. Untuk saya yang memiliki long-term memory buruk, kenangan-kenangan tersebut hadir begitu jelas, sangat jelas. Saya ingat dengan pasti senyum Mrs. Hara dan gaya jenaka Mr. Hara. Saya tergugah dengan betapa kuatnya inspirasi yang mereka berikan.

Blossom of snow may you bloom and grow,
Bloom and Grow forever... -edelweiss-


Senandung lagu edelweiss mengingatkan kenangan bahagia kami, yang satu bernyanyi, yang satu berharmonika. Pasangan yang serasi dan berimbang. Kini keduanya telah pergi bersama-sama.

Maafkan negeri kami, keluarga Hara.

Deepest Condolences for Mr. and Mrs. Hara.

3 konsumen berkomen:

Cipto Haryabri said...

ikut berduka din..
duka juga buat bangsa kita..
semoga mereka mendapat tempat yang layak disisi Tuhan..

Zippy said...

Turut berduka...
Itulah hidup, kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Semoga aja Mr. dan Mrs. Hara tenang disana. Amin.

dd said...

astagfirullah... so sad..

Related Posts with Thumbnails

Recent Comments

Search!

Loading...