Ini tentang Warid. Warid itu kurang lebih tentang pemilihan program studi yang tepat sesuai minat, kemampuan, dan karakter si anak. Saya sedang belajar ini, jadi dengarkan cuap-cuap dan kesan setengah ngaco saya berikut:
Selalu ada yang menarik tentang warid belajar. Sama menariknya jika kamu yang bekerja sebagai akuntan di kantor high class dunia lalu ketika ditanya apa cita-citanya? lantas kamu jawab: "musisi."
Hmm.. Familiar? :)
Yeah, cerita barusan emang ngarang, tapi kali ini pengalaman nyata. Seorang teman mendapat kasus klien yang cintaaaa.. banget matematika. Ditanya ibukota suatu negara terkenal ia salah jawab, karena minatnya ya itu: Matematika. Setelah telasar-telusur ternyata sejak kecil Ayahnya mendukungnya khusus untuk pelajaran Matematika ini. Belajar matematika didampingi. Jika ada nilai Matematika yang jelek, sekolah didatangi. Peduli sekali pada si anak tapi hanya (terutama) terhadap pelajaran Matematika. Usut punya usut, ternyata Ayahnya dulu sempat kuliah di jurusan MIPA namun tidak selesai. dan kini pekerjaannya berdagang di Pasar, kurang relevan dengan matematikanya (selain ilmu dagang, sodara-sodara).
Ada lagi cerita nyata. Seorang teman memiliki klien yang cita-citanya hanya satu: menjadi dokter. Tapi terlihat minat baca dirinya kurang. Cintanya lebih pada pelajaran kimia. Tapi cita-cita dia tetep satu: Jadi Dokter. Titik. Setelah dilihat minatnya, ternyata ia sebenernya kurang suka sama hal-hal yang praktis, berhadapan langsung dengan orang lain kayanya kurang pas. Dia tipe belakang layar dan punya minat terpendam sama penelitian. Setelah usut punya usut, ternyata ibunya sakit-sakitan. Ia ingin di hari tuanya bisa menolong dan mengobati ibunya. Tanpa aling-aling gw sarankan ke temen gw itu untuk memupuskan cita-cita si anak menjadi dokter. Kusarankan padanya masuk Farmasi. Kutambahkan: menyembuhkan orang sakit bukan satu-satunya peran dokter. dengan bakatnya di farmasi, mungkin subjek bisa meracik obat yg murah dan bagus sehingga malah akan banyak sekali orang sakit yang tertolong ketimbang dia jadi dokter yg biasa saja. *semoga saran saya tidak ngaco ya tuhan..*
Lain lagi dengan subjek saya. Ia anak yatim dari sosek menengah ke bawah dan dibiayai sekolahnya oleh kerabat jauh ibunya. Cita-citanya menjadi akuntan. Dengan alasan bisa bekerja di kantor ber-ac, bisa mengangkat harkat martabat keluarga, bisa kaya dan menolong biaya pendidikan anak-anak lainnya yang tidak mampu. Tapi dari kemampuan matematikanya jauuh sekali. Pembagian sederhana masih terbata-bata. Kemampuan administrasi masih minim. Dari penggalian sana-sini terlihat sebenarnya subjek ini punya ketertarikan juga di bidang sastra. Ia oke juga di orientasi bangun ruang. Teliti juga pada hal-hal detail. Saya heran kenapa ia punya cita-cita yang jauuh sekali dari kemampuannya? ternyata setelah ngobrol dengan ibunya, beliau seringkali menasehati klien saya untuk dapat bekerja di kantoran yang bisa mengangkat derajat keluarga. Ibunya berkali-kali menasehati agar jangan seperti dirinya yang hanya lulusan SMA sehingga tidak memiliki penghasilan yang dapat diandalkan.
dan masih - masih - masih banyak lagi cerita lainnya.
masih - masih - masih banyak lagi para remaja kita yang buta karier. Bahkan kakak saya saja kemarin bertanya-tanya lagi: "dik, sebenarnya passion saya tuh harusnya dimana ya?". Usianya 37 tahun. Terlambat? tentu saja tidak.
Tidak semua orang punya kesempatan untuk mengenali minat dan passion dirinya. Paling utama: tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan passion-nya tersebut. Rata-rata terbentur oleh faktor keluarga, dan satu yang paling sering terjadi: benturan dengan harapan orang tua.
Well, kadang kita memperlakukan keturunan kita seperti lari estafet. Orang tua sebagai pelari satu meneruskan mimpi dan ambisinya pada anaknya sang pelari dua. Tidak puas dengan pelari dua, diteruskan pada adiknya sang pelari tiga. Terus begitu.
Padahal, hidup ini benar-benar seperti maraton. Setiap orang memiliki garis finish masing-masing. Tidak lagi tengok kanan-kiri. Tidak lagi senggol kanan-kiri. Hanya berfokus pada kemampuan, pikiran, dan titik finish yang kita lihat. Sendiri-sendiri.
Kamu sendiri, masih jadi pelari estafet atau sudah mulai maraton? :)
Ps1: Untuk para orang tua, jangan menjadikan anak-anak kita sebagai penerus mimpi-mimpi kita yang tertunda. Biarkan mereka menyelesaikan garis finis mereka masing-masing.
Ps2: Untuk para warid'ers, yup, PR kita masih banyak - banyak - banyak sekali.. hahaha
Ps3: Untung gw lahir sebagai anak ke-enam, sehingga tongkat lari estafetnya udah keburu abis, hehe.
Ps4: untuk para pelari maraton, bersemangat dan bertanggung jawablah mencapai finish. balaslah kebesaran hati orangtuamu yang telah membiarkan terbang mimpi2 mereka dan membiarkanmu tumbuh dengan mimpi2mu sendiri.
akhir.
1 year ago

4 konsumen berkomen:
adiiiiin...diriku senang sekali membaca post ini...
kalau aku juga boleh berbangga hati karena sudah sebagai atlit maraton..tapi memang suka kasihan sama anak dgn ortu2 yg masih beraksi menggunakan tongkat estafet...
mungkin lewat warid inilah yg merupakan salah satu tugas kita nanti...
*beruntunglah anak dgn ortu yg membiarkan anaknya menggapai impian dgn bertanggung jawab...
berarti status saya: sedang berusaha untuk bermarathon ria padahal sang ayah ngacung2in tongkat estafet mulu =P
hihi...nice post adin =)
untuk menjadi pelari maraton kadang lebih mahal dari pada estafet. ketika tujuan seorang anak diluar kemampuan orang tuanya, si anak hanya bisa menerima apa adanya. yang seharusnya dia kuat berlari ratusan kilo, kini hanya pasrah dengan jarak ratusan meter.
diluar segi ekonomi -yang seringkali berimbas pada kurangnya informasi beasiswa- menurut gw setiap orang harus jadi pelari maraton *sedih karena si anak mirip kayak gw* :)
very nice post.
salam kenal ya.
adin,, gw suka tulisan lu yg ini,, blog lo gw link yah.. thx.. :D
Post a Comment